Bagai harta karun, buku "Tradisi Tenun Ikat Nusantara" ini kutemukan di Taman Pintar, Yogyakarta, 2019 lalu. Terlalu lama disimpan dan dipajang dilemari, buku ini akhirnya baru saja kurampungkan pada 17 Agustus 2024 ini dalam waktu kurang lebih dua jam. Sungguh perasaan yang tidak kusangka karena kala itu buku ini kubeli hanya karena judul topiknya yang menarik, namun ternyata sungguh kubutuhkan untuk hidupku di 2024 yang banyak bersinggungan dengan penelitian kebudayaan dan wastra belakangan. Sebuah titik takdir hidup yang saling tersambung dan sama sekali tidak ada kesia-siaannya.
Merupakan buku cetakan pertama yang diterbitkan oleh BAB Publishing Indonesia pada 2016 lalu. Buku ini ditulis oleh Benny Gratha & Judi Achjadi untuk Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Membahas banyak sekali tentang wastra dan tradisi tenun ikat di berbagai penjuru pulau dengan ragam hiasnya, serta keterkaitannya dalam kehidupan masyarakan nusantara. Berikut adalah kutipan poin penting dari bahasan yang telah aku tandai dari bacaan
––––––––
Tradisi Tenun Ikat
1. Masyarakat setempat menyerap dan menafsirkan budaya tersebut dan mengembangkannya hingga pada tingkat yang kadang lebih baik dari aslinya.
2. Keahlian membuat tenun ikat dipercaya sebagai anugerah dari Tuhan, dewa yang memberi inspirasi dan instruksi. Berlaku di Bali, dimana ornamen wastra ikat ganda geringsing dari Desa Tenganan dipercaya dibuat dan diwarnai di langit oleh Batara Indra.
3. Semua ikat lungsi memiliki kesamaan dan juga ciri-ciri kedaerahan. Terlihat adanya kemiripan dalam gaya, teknik, dan hiasan, yang kesemuanya berhubungan dengan sejarah dan latar belakang budaya sebuah komunitas. Beberapa faktor seperti letak geografis (daerah terpencil), topografi (medan yang sulit), dan unsur budaya setempat yang lebih tua (masih bertahan), berperan dalam melestarikan budaya sebuah komunitas, misalnya teknik-teknik tenun khusus.
Menurut L. Langewis, hiasan pada wastra yang dibuat oleh masyarakat yang menenun dengan teknik ikat lungsi menunjukkan bahwa teknik tersebut berasal dari masyarakat yang kurang mendapat pengaruh teknik dan ragam hias wastra impor. Ia memberi contoh ikat lungsi dari Batak, Dayak, Toraja, dan Sumba meletakkan daya tahan unsur-unsur setempat pada sedikitinya kepentingan yang dimiliki komunitas-komunitas tersebut bagi dunia perdagangan. Unsur baru merupakan hasil dari adanya perdagangan intensif dan masuknya wastra impor.
4. Ikat pakan relatif baru dikenal di Indonesia. Ketika kapas mulai digunakan untuk menenun. Awalnya sutera diimpor dari Cina, kemudian penduduk asli Indonesia mulai menanam pohon murbei dan membudidayakan ulat sutera sendiri. Perkembangan ikat pakan berhubungan dengan benang sutera impor yang diperoleh dari pedagang-pedagang Muslim India yang datang di daerah pesisir Indonesia pada abad ke-15, terutama di daerah pesisir bagian timur Sumatra, di bagian utara Jawa, dan bagian barat Sulawesi. Pedagang inilah yang membawa benang emas dan perak yang sering dikombinasikan dengan ikat pakan di Indonesia
5. Kehadiran barang impor tersebut memperbanyak variasi teknik tenun dan hiasan wastra. Pengaruh Hindu-Budha pada abad ke-4 dan Islam pada abad ke-15, masing-masing menjadi panduan hidup yang mengatur perilaku para pengikutnya dan menyerap budaya setempat.
6. Ikat pakan memiliki penampilan yang cerah dengan warna memikat, kadang dihiasi benang emas/perak.
7. Pembahasan tenun ikat Indonesia tidak lengkap tanpa menyinggung 'patola' Motif ini dibawa oleh pedagang Gujarat yang dicirikan kombinasi bentuk wajik, segitiga, dan bunga segi delapan. Motif pada wastra membuktikan adanya pengaruh dari pertukaran barang.
8. Pengaruh Gujarat diterima di Indonesia karena Indonesia telah memiliki hiasan yang serupa dengan Patola dengan warna serta ragam hias yang terinspirasi dari sisik ular sawah.
Tradisi Tenun Ikat
1. Nenek moyan tiba di Indonesia pada zaman Neolitikum sekitar 2.000 SM. Mereka membuat gerabah dari tanah lempung yang dikeringkan dan menganyam daun dan serat dari pohon dan kayu sebagai wadah makanan. Dengan menganyam berbagai jenis daun pandan, alang-alang, dan rotan, mereka mampu memenuhi kebutuhan barang rumah tangga mereka.
2. Keahlian membuat perunggu dibawa ke Indonesia dari kebudayaan Dongson, Asia Tenggara, menyebabkan nekara yang dapat dibuat dan kepemilikannya dianggap lambang kehormatan yang tinggi
3. Nekara dihiasi dengan ragam hias geometris, berdasarkan bentuk melingkar, berkelok, garis lurus, lingkaran, dan sebagainya. Hiasan pada nekara memberi pengaruh terhadap hiasan wastra di kepulauan nusantara dan bercampur dengan kepercayaan setempat bahwa alam memiliki kekuatan gaib.
4. Konsep yang telah ada sejak zaman Neolitikum yakni alam dan segala sesuatu di dalamnya mempengaruhi kehidupan umat manusia dan penciptaannya. Aspek mistis dari alam dianggap dapat diwujudkan pada spesies flora dan fauna tertentu, sungai, gunung, matahari, bintang, dan sebagainya.
5. Sebagai hiasan pada wastra, unsur dibuat bentuk geometris berbentuk binatang dengan kekuatannya masing-masing: buaya, kadal, tokek melambangkan dunia bawah, dan burung melambangkan dunia atas. Sedangkan kehidupan yang abadi 'di dunia lain' dilambangkan oleh cabang-cabang dan daun-daun yang rimbun dari pohon kehidupan yang memiliki batang besar di dunia dan akarnya yang menyebar luas di dunia bawah.
6. Nenek moyang digambarkan dengan tangan dan kaki yang dibuka lebar. Garis geometris yang sering digunakan dalam komposisinya antara lain kait, garis lurus, garis lengkung, segitiga, segi empat, dan persegi.
7. Wagner memperkirakan bahwa bentuk kait merupakan modifikasi dari bentuk spiral Dongsong
8. Kombinasi tersebut tidak hanya memperkaya bentuk hiasan, tetapi juga berfungsi untuk meniru bentuk manusia, buaya, kadal, bunglon, pohon, dan bentuk lainnya
9. Tidak mudah mengetahui ornamen dibuat dengan maksud khusus atau hiasan saja. Ketidakpastian ini merupakan hasil dari waktu pengembangan yang lama sehingga makna sesungguhnya dari obyek yang digambarkan telah dilupakan dan bentuknya dibuat berbeda dari bentuk aslinya.
10. Pada mulanya, motif yang digunakan untuk menghias wastra memiliki arti tertentu atau terlihat abstrak. Ini disesuaikan dengan penggunaan bahan pakaian, yang diperindah dengan ragam hias khusus untuk kesempatan tertentu.
11. Selama masa kerajaan Hindu Budha, unsur baru dimasukkan ke dalam budaya setempat, terutama yang bermanfaat secara estetika: perasaan keindahan dan kreativitas. Flora dan fauna juga diperkenalkan pada seni hiasan setempat dalam hubungannya dengan ajaran Hindu dan perilaku terhadap alam, bersama hiasan yang dipakai Dewa-Dewa Hindu
12. Figur manusia jarang terlihat pada seni Islam, karena penggambaran bentuk makhluk hidup dilarang. Tetapi gambar fauna dengan penekanan pada bentuk burung muncul sebagai hiasan pada tenun ikat. Karya seni dalam dunia Islam memiliki kecenderungan ke arah flora dan mengembangkan bentuk lengkung geometris dan bentuk serupa dengan huruf Arab
––––––––
Buku ini sungguh menarik untuk dibaca lebih lanjut. Terutama untuk yang tertarik di bidang kebudayaan dan sejarah tradisi wastra nusantara. Silakan temukan di perpustakaan terdaftar untuk membaca lebih banyak tentang buku ini!
